Sabtu, 09 Mei 2015

Kegelisahan Akan Tuhan Antarkan Green Peluk Islam

Green tidak bisa menerima logika tentang konsep Tuhan yang ia dapatkan di bangku sekolah.
Dream - Hidayah bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Tidak terkecuali ketika seseorang gelisah saat mencoba menjawab pertanyaan mengenai konsep Tuhan.

Hal itulah yang dialami oleh Abdur Raheem Green. Pria yang kini menjadi ustaz ini punya sejarah panjang bagaimana ia sampai memeluk Islam.

Namanya aslinya Anthony Vatswaf Galvin Green. Ia telah berganti nama ketika memutuskan memeluk Islam.

Terlahir di Dar As-Salam, Tanzania, Green adalah anak seorang pejabat kolonial Inggris. Saat masih kecil Green dimasukkan ke sekolah agama di Bologna. Setelah lulus, Green kembali belajar agama di sekolah agama di Yorkshire, Inggris Utara.

Tetapi dalam diri Green sering timbul pertanyaan mengenai konsep ajaran yang dianut oleh ibunya. Dia juga merasa aneh dengan doktrin pengakuan dosa. Menurutnya, itu adalah doktrin aneh dan tidak lebih dari konspirasi besar untuk mengendalikan orang lain.
Saat berusia 11 tahun, ayah Green mendapat tugas sebagai manajer Bank Barclays di Kairo, Mesir. Sejak itu hingga 10 tahun kemudian, Mesir menjadi tempat Green menghabiskan liburan sekolah meski tetap bersekolah di Inggris.

Green menikmati liburannya di Mesir. Tetapi ia selalu gelisah dengan sejumlah pertanyaan spiritual ketika kembali ke Inggris.

Ia merasa kehidupan Barat yang dijalaninya selama ini selalu mengukur kebahagiaan dengan materi. Berbeda jauh jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat Muslim di Mesir.

Green lantas bertanya-tanya tentang tujuan hidupnya dan alasan mengapa manusia ada. Dia merenungkan semua pertanyaan-pertanyaan itu hingga akhirnya termotivasi untuk mencari jawaban sesungguhnya.

Green pun mulai mencari tahu tentang ajaran agama lain yang dianggapnya bisa memberikan pandangan dan pemahaman tetap makna dan tujuan hidup. Akhirnya, Green bertemu dengan seorang pemuda Muslim Mesir yang memberinya pencerahan soal Tuhan.

Bagi Green, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pemuda itu kepadanya serasa seperti tinju Mike Tyson yang mendarat di wajahnya. Green merasa dirinya selama ini bodoh dan tertipu. Hatinya tak pernah tenang.

Keyakinan Green terhadap agamanya mulai terkikis. Green mengembara mencari agama lain, namun yang ditemuinya tak bisa menenangkan kegelisahan hatinya.

Green pun sempat berpikir untuk tak lagi peduli pada agama. Yang ada di pikirannya hanya ingin hidup sesenang mungkin.

"Saat itu saya berpikir mungkin hidup itu tidak ada maknanya, tak ada yang lebih penting dalam hidup kecuali menjadi orang kaya," kenangnya.

Namun dia tidak memiliki banyak uang, jadi harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Green melihat negara-negara yang dianggapnya mudah mendatangkan uang. Mulai dari Inggris, Amerika, Jepang, hingga Arab Saudi yang juga salah satu negara kaya.

Saat memikirkan Arab Saudi, Green tertarik dengan cara orang Arab mendapatkan uang melimpah. Mereka hanya perlu mengucapkan 'Allahu Akbar' di atas unta dan uang pun mengalir. Saat itu Green merasa penasaran dengan orang Arab, 'pasti ada sesuatu di sana'.

Green mulai berpikir tentang apa agama dan kitab suci mereka. Dia teringat dengan Alquran, yang saat itu dia pikir 'kitabnya orang-orang Arab'. Green kemudian membeli satu salinan Alquran dan membacanya saat naik kereta api yang melintasi Sungai Thames menuju Stasiun Victoria.

"Saya sangat ingat dengan jelas saya duduk di kereta dekat jendela dan membaca terjemahan Alquran itu."

Saat itu, Green membaca Alquran bukan untuk mencari jawaban atas kegelisahan spiritualnya, tapi hanya ingin tahu isinya. Green hanya penasaran dengan isi Alquran.

Bukan sekadar pemahaman yang ia dapat, Green justru mendapat ketenangan batin dari tiap lembar Alquran terjemahan itu. Dahaga akan jawaban dan rasa penasaran yang selama ini menggelayut di hatinya perlahan mulai terjawab kata demi kata dalam ayat Alquran.

"Saya memandang ke luar jendela sejenak, lalu membaca lagi. Jika di dunia ini ada sebuah buku yang ditulis oleh Tuhan, maka inilah dia," kenangnya.

Beberapa hari kemudian, Green pergi ke sebuah toko buku yang merupakan bagian dari sebuah masjid. Saat melihat-lihat buku tentang Nabi Muhammad dan salat, Green didekati penjaga toko. Kebetulan hari itu adalah Jumat.

"Maaf, Anda seorang Muslim?," tanya penjaga tersebut. Green menjawab, "Dengar, saya percaya hanya ada satu Tuhan yaitu Allah SWT dan Muhammad adalah utusan-Nya."

"Berarti Anda seorang Muslim," kata penjaga itu lagi. Green hanya menjawab, "Terima kasih".

Penjaga toko itu kemudian berkata pada Green bahwa sudah waktunya untuk menunaikan salat Jumat. Green pun diajak untuk salat Jumat meski dia sendiri belum tahu apa-apa. Namun Green tetap ikut meski banyak gerakannya yang salah.

Namun hari Jumat tersebut menjadi sejarah baru bagi kehidupan spiritual Green. Dengan disaksikan jamaah lainnya, Green akhirnya mengucapkan kalimat syahadat.

(Ism, Sumber: Onislam.net) 

7 TIPS "NGECAS" SMARTPHONE

Hindari baterai benar-benar kosong
Kondisi ekstrim berbahaya bagi kesehatan baterai smartphone . Mengisi daya penuh dalam waktu lama nggak baik. Namun, membiarkan baterai benar-benar kosong lebih nggak baik lagi. Jika sering seperti ini, maka ketahanan baterai akan perlahan menurun.
Isi daya beberapa kali dalam beberapa tahapan
Layaknya dalam kehidupan nyata, lebih baik berlari sprint  dalam beberapa sesi daripada lari marathon  dalam satu sesi. Untuk menjaga sel baterai agar nggak "muak" dengan pengisian, sebaiknya pengisian dilakukan dalam beberapa tahapan. Misalnya dari 30 persen sampai 60 persen atau dari 45 persen ke 79 persen.
Kondisi baterai paling baik saat 40 persen.
Pada isi tersebut kondisi baterai seimbang. Nggak terlalu penuh, nggak juga kosong. Pada situasi ini, jangan ditekan si-sel baterai dengan melakukan pe"ngecas"an daya. Lebih baik smartphone  digunakan sampai persentase baterai menurun pelan-pelan. Setelahnya, sebelum menuju kosong, barulah isi daya.
Jangan tempatkan baterai di suhu panas
Baterai bakal kehilangan 80 persen ketahanannya jika kita menaruh-nya pada temperatur 60 derajat selama setahun. Pada suhu normal (25 derajat), ketahanan baterai tiap tahunnya juga bakal berkurang secara alamiah sebanyak 20 persen.
Jangan juga tempatkan baterai di suhu dingin.
Kalo ingin menyimpan baterai, pastikan nggak di tempat dengan suhu dingin, seperti kulkas. Dampak negatifnya akan sama dengan kemungkinan jika baterai ditempatkan pada tempat yang bersuhu panas. 
Jangan biarkan baterai kosong dalam waktu lama
Jika baterai benar-benar dalam keadaan kosong, sel baterai akan "tidur". Jika nggak cepat "dibangunin", kemungkinan terjeleknya sel baterainya bakal kehilangan kemampuan untuk menyerap daya dari alat nge"cas". Maka, saat kapasitas baterai menunjukkan 40 persen, kita harus mulai melakukan pengisian ulang.
Jangan pernah berharap baterai bisa hidup selamanya.
Kita pasti selalu berharap baterai akan seperti cinta, yang bisa hidup selamannya... #Syaelah. Nah, manusia aja hidup hanya sementara, apalagi kalo baterai smartphone . Faktanya, setiap tahun pastinya ketahanan baterai pasti menurun. Walau kita telah merawat baterai dengan benar, setiap baterai pasti punya umur. 

Sumber: www.hai-online.com

Jumat, 08 Mei 2015

6 Hal Yang Sebaiknya Jangan Dilakukan Ketika Naik Gunung

Selain buang sampah dan corat-coret sembarangan, nih ada lagi yang sebaiknya nggak usah lo lakukan.
Jadi sekarang gunung bukan lagi cuma buat pecinta alam. Tapi udah jadi tempat wisata yang bisa didatangi siapa aja. Makanya makin hari gunung jadi makin rame, makin antri buat nanjak. Kalo boleh dibilang naik gunung udah jadi gaya hidup. Nah, karena udah jadi gaya hidup, banyak orang yang “belum ngerti” gimana seharusnya bertingkah laku selama perjalanan naik gunung. Ada aja yang masih menganggap ini cuma soal naik dan turun, nggak lebih. Padahal mah namanya di alam yang adalah tempat baru buat lo, jadi ada hal-hal yang biasa lo lakukan di keseharian tapi nggak bisa atau sebaiknya jangan lo lakukan ketika naik gunung. Kayak 6 hal berikut, Simak!

Jangan Ngomong Sembarangan
Buat lo yang mulutnya suka enteng banget nyerocos tanpa kontrol, coba kalo lagi naik gunung dikurang-kuranginlah. Ya, namanya juga di alam terbuka kayak gitu, manusia jadi keliatan kecil banget dan nggak ada apa-apanya. Belum lagi kalo ada cerita-cerita mistisnya di gunung itu, pasti lo makin disaranin sama pendaki lain buat jaga sikap, jaga omongan kalo nggak mau hilang! Iiihhh,,,sereemm. Tapi kalo dipikir-pikir lagi sebenernya biar tenaga lo nggak cepet habis aja karena kebanyakan ngomong. Mending tenaganya dipake buat naik biar bisa cepet sampe di atas.

Jangan Sering Becanda
Sebelas dua belas sama poin di atas sih. Cuma ini agak lebih baik aja karena tujuannya buat bikin suasana perjalanan jadi santai, cair, dan senang, Tapi, lagi lagi jangan terlalu. Soalnya lo butuh tenaga ekstra buat naik ke gunung. Kalo terlalu banyak becanda, maka bakal terlalu banyak ketawa (kalo materi becanda lo beneran lucu) tapi juga bisa terlalu banyak kesebalan (kalo materi lo garing) yang bikin tenaga lo jadi lumayan terkuras, terutama dalam hal nafas. Lo bakal kerepotan ngaturnya antara ngos-ngosan sama cekikian. Bisa-bisa keselek nafas sendiri nanti.

Jangan Banyak Curhat
Kalo curhatnya masih soal capek, butuh batu buat duduk, pengen minum air, sampe atas mau makan mie rebus pake telor kornet, itu masih gapapa. Tapi jangan coba-coba lo curhat panjang lebar soal lo yang deket lagi sama mantan. Tapi mantannya udah punya pacar dan lo juga lagi deket sama orang lain. Terus sebenernya lo tahu hubungan kalian juga ga bisa balik lagi karena beda prinsip, beda arah pulang, tapi kalian masih saling sayang. Dan lo juga belum yakin sama pacar lo sekarang, karena takut itu cuma pelarian. Tapi lo bingung soalnya dia perhatian banget sama lo, melebihi perhatian yang dikasih sama mantan lo. Wailah jadi cerita gini. Ya intinya, jangan curhat panjang lebar deh, karena nggak ada yang dengerin juga.  Boong deng, tetep didengerin kok tapi nggak direspon, muwehehehehe. Cuma di
“hmm… oh… iya….
“hmm (2),,,,”
“oh (2),,,,”
“iya (2),,,,”
“hmm (3),,,”
“oh (3),,,,”
“iya (3),,,,”
“hmm (4)…”
“oh (4)….”
“Iya (4)…”
“hmm..oh..iya.. (327)
tanpa ada komentar lain. Soalnya daripada kasih nasihat atau solusi, temen lo pasti lebih milih ngatur nafasnya sendiri sih.

Jangan Sering Lihat Ke Atas
“Jangan sering lihat ke atas. Sesekali harus lihat ke bawah biar kita bisa lebih bersyukur.” Nah, kata-kata ini bisa dipake juga saat lo naik gunung. Ya, jangan terlalu sering lihat ke atas terutama pas di depan ada track yang curam. Kenapa? Karena bikin semangat lo jadi turun. Secara nggak sadar bikin lo cepet capek, lemes, nggak sanggup, pengen nyerah, nangis, terus muter balik turun ke bawah. Dan akhirnya malah menggagalkan lo buat sampe ke puncak yang menjadi tujuan dari perjalanan lo. Jadi, mending lo lihat ke bawah, ke langkah kaki lo. Pastiin jalan yang lo lewatin itu aman. Ibaratnya fokus aja sama apa yang ada di depan mata lo. Anggap yang jauh di depan sana adalah bonus dari apa yang sedang lo lakukan sekarang. Azeekkk…azekkk….azekkk.

Jangan Banyak Nanya Jarak ke Pendaki Lain
“Kira-kira kalo dari sini ke atas, berapa lama lagi ya?” Ini jadi pertanyaan yang sering banget keluar dari kita yang lagi naik gunung. Rasanya dengan hitungan waktu itu bisa memotivasi kita buat tetep semangat pengen cepet-cepet sampe puncak. Tapi tapi tapi, balik lagi waktu itu adalah sesuatu yang relatif banget. Nggak heran, kalo pas lo bertanya ini pada pendaki lain, maka jawabannya bakal beragam, ada yang bilang 20 menit, 45 menit, sejam, sampe dua jam-an (jaman pra sejarah dan sejarah). Ya itu emang tergantung sama kemampuan masing-masing orang. Jadi daripada bikin lo bingung terus kesel karena kok info yang didapet nggak sesuai sama kenyataan, mending lo atur nafas lagi.

Jangan Coba Menawarkan Bisnis MLM
Kalo ada yang beneran melakukan ini sih emang kebangetan ya. Dalam kondisi sehat bugar aja, lo tetep susah membujuk seseorang buat mau ikutan MLM. Apalagi ini keadaannya lagi ngos-ngosan, capek, haus, laper, terus malah ditawarin MLM. Yailah ada yang coba nembak dan nyatain perasaannya pas lagi mendaki aja pernah ditolak. Selain sia-sia, saking keselnya temen lo juga bisa meninggalkan lo di bawah sendirian. Tapi untungnya lo masih punya dua kaki di kanan dua kaki di kiri ya (baca :downline). Ciyegitu anak MLM.

Ya gitu deh kira-kira, yang mau nambahin silahkan. Apalagi di luar sana ada anak gunung lain yang pasti punya usul. Ciyegitu (2).
Oleh: Intan Purnama Sari
Sumber: www.provoke-online.com

Kamis, 07 Mei 2015

Tak Ingin Lemas? Hindari Makanan Ini Saat Sarapan

Meski ada banyak makanan yang ampuh mengatasi lemas karena kelelahan (fatigue), beberapa makanan tertentu malah membuat Anda merasa semakin tak bertenaga.
Seperti dilansir Healthyfoodteam, Jumat (8/5/2015), sebaiknya hindari memakan jenis makanan berikut saat sarapan agar Anda terhindar dari lemas di pagi hari!
1. Pisang
Buah pisang kaya akan magnesium yang membuat otot rileks. Buah berwarna kuning ini kurang cocok untuk dimakan saat sarapan atau sebagai camilan.
2. Roti putih
Karbohidrat, komponen utama roti putih, cepat terurai dan habis. Memilih roti gandum untuk sarapan jauh lebih baik ketimbang roti putih.
3. Daging merah
Lemak dari daging merah sulit dicerna tubuh. Dengan begitu tubuh akan lebih banyak mengeluarkan energi untuk memroses makanan ini. 
4. Buah cherry
Cherry banyak mengandung melatonin yang berperan besar membantu kita tidur lebih lelap. Jadi, sebaiknya hindari makan cherry jika Anda ingin tetap terjaga.
5. Cake
Asupan gula dalam jumlah besar menstimulasi sekresi tryptophan dan asam amino yang akan membuat Anda mengantuk.
6. Kopi
Meskipun kopi bisa memberi kekuatan lebih pada tubuh untuk jangka waktu tertentu, Anda akan merasa sangat lelah setelah pengaruh kopi habis.
Oleh: Dyah Puspita WisnuwardaniSumber: health.liputan6.com 

Rabu, 06 Mei 2015

Filosofi Jarak

Terlaludekatdengansesuatumembuatkitasulitmembacakeadaan, itulah mengapa jarak diperlukan
Kata 'jauh' dan 'menjauh' tuh emang seringnya diartiin sebagai sesuatu yang negatif. Nggak enak. Menjauh sama aja kayak merentang jarak lahir batin, memangkas kemungkinan interaksi yang seru dan bikin ingatan kita akan hal yang menjauh itu berkurang.
Karena itu lah banyak dari setelah lulus sekolah dan udah keterima di kampus luar kota jadi malah takut. Takut jauh dari kota yang kita udah suka banget, takut jauh dari orang tua, dari sohib seangkatan, dan bukan nggak mungkin, jadi menjauh sama pacar
Hasilnya, semua jadi berusaha untuk tetap berada di zona nyaman (comfort zone). Dan ketika udah berada di zona itu bakal muncul ego untuk memiliki, terus berdekatan dan takut berjauhan. Ogah berjarak. Pengin selalu rapat mendekap.
Tapi anehnya, ketika udah ada di comfort zone pun kita tetap mengeluh. Situasi kayak gini pun terjadi:
  • Jenuh sama pacar yang sebenernya kamu sayang banget.
  • Bosan sama kerjaan yang awalnya kamu suka banget
  • Kesel sama pergaulan yang isinya orang-orang yang bener-bener akrab sama kamu, atau
  • Muak tinggal di kota yang awalnya kamu idam-idamkan banget.
Ironis. Pada titik tertentu, sesuatu yang bener-bener kita cinta ternyata bisa bikin kita malah balik membencinya. Seketika itu, pasti akan muncul dilema luar biasa di dalam kepala. Bunyinya, "kayaknya mending putus deh.", "kayaknya gue mending resign" atau "Gue harus cabut dari sini."

Dari situasi itu, P! jadi inget peribahasa "Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak"
Lucu yah, bisa-bisanya  gajah yang besar dan dekat tapi nggak terasa keberadaannya. Sementara semut yang mini dan nyaris nihil nan jauh di sana justru bisa merebut perhatian kita.
 P! pun jadi bertanya, apa benar dekat bisa membuat kita menjadi intim dan makin mencinta. Dan apa benar menjauh bisa membuat kita renggang?
Pergi untuk tahu betapa nikmatnya pulang
Suatu waktu, P! mewawancara Nadine Chandrawinata. Kakak traveler cantik yang doyan banget ngilang dari Jakarta dan tiba-tiba nongol di Pulau Komodo, tiba-tiba diving di Raja Ampat, tiba-tiba menclok di puncak Himalaya ini berkata bahwa dirinya tuh sering banget lupa seperti apakah keindahan itu sebenarnya ketika dia justru sedang dekat banget dengan keindahan alam itu.
Kata Nadine, saat berada di alam indah yang jauh dari rumahnya itu pun dirinya justru merasa sangat rindu dan butuh untuk merasakan hiruk-pikuk Jakarta. “Gue suka kangen sama macet dan panasnya Jakarta kalau lagi lama berada di alam terbuka,” repetnya.
Setelah diam beberapa saat sejak ia mengatakan itu, kakak yang pernah jadi missIndonesia ini pun seolah menemukan kalimat yang bisa menyimpulkan esensi yang ia rasakan itu “Gue nggak bakal tahu betapa nikmatnya pulang kalau gue nggak berangkat pergi ke tempat yang jauh dan lama.”. Uuuuh. dalem banget yak.
Dari cerita itu kita bisa simpulkan bahwa kita baru tahu persis apa arti pulang setelah kita tahu juga artinya pergi. Kita akan merasa perlu mendekat (lagi) dengan sesuatu ketika kita sudah menjauh darinya.
Menjauh=Merindu
Banyak yang takut dengan jarak karena kemungkinannya untuk dilupakan dan ditinggalkan. Buktinya, banyak celotehan yang bilang kalau LDRan itu adalah sebuah keniscayaan. Nggak mungkin berhasil. "Ketika pasangan lo jauh, ya berarti hatinya juga menjauh. Siap-siap ditinggal deh."
Tapi, coba pikir-pikir lagi deh, apakah pernah pasangan pacar yang tiap hari ketemu merasakan kangen? Kayaknya, cuma mereka yang berjauhan aja tuh yang ngerasa kangen. Dan seperti yang kita tau, pertemuan yang diawali oleh rindu yang ditimbun itu bakal jadi spesial banget. Jauh lebih spesial dari martabak telor tiga.
Menjauh Untuk Melihat Secara Utuh
Kembali ke peribahasa gajah dan semut, pantas aja kita nggak akan bisa melihat gajah yang ada di pelupuk mata, karena yang akan kita lihat hanyalah abu-abu. Itu pun pasti buram. Kita perlu menjauh barang satu atau dua langkah untuk bisa mengetahui bahwa abu-abu itu adalah warna dari kulit gajah.
Kadang, terlalu dekat dengan sesuatu membuat kita nggak tahu apakah (esensi) sebenarnya sesuatu itu. Seperti rangkaian kata yang berhimpitan terlalu dekat. Nggak akan mudah terbaca.
Sekali pun sesuatu itu adalah kesukaan kita, terlalu larut melakukan hal yang itu-itu melulu ternyata bisa bikin kita jenuh dan begah. Kita butuh membuat jarak agar bisa membacanya lebih jelas. Kita perlu menjauh untuk melihatnya secara utuh, lalu melihat-lihat, meresapi, dan menikmati pemandangan lain di sekitar kita.
Ketika kamu akan meninggalkan teman-teman kamu kuliah ke luar kota jangan sedih berlebihan. Ketika pacar kamu di kirim ke planet pluto untuk penelitian, jangan minta putus. Ketika bosen sama tongkrongan jangan buru-buru bilang kalau tongkrongan kamu udah nggak asik lagi. Ketika kamu bosan dengan kerjaan, jangan buru-buru resign, coba berjarak aja dulu.
Jadi, Jangan takut menjauh, karena kita jadi bisa melihat secara utuh.  Jangan takut sama jarak, karena ternyata bermanfaat.  Apalagi kalau kata sopir angkot mah, mau jauh atau pun dekat, ongkosnya sama. 
Oleh: Rizki Ramadan
Sumber: www.provoke-online.com

Senin, 04 Mei 2015

9 Tips Komposisi Yang Bisa Menyempurnakan Foto Kalian


Mudah dan dapat dilatih di keseharian!
Bingung mau bikin foto yang bagus dan mentok dengan komposisi yang itu-itu melulu? Tenang, seorang fotografer legendaris Steve McCurry dengan baik hatinya memberikan tips yang mudah dan langsung dapat dipraktekan di dalam keseharian kalian. Dengan tips-tips ini dijamin hasil jepretan lo bakal semakin asoy buat dipamerin di pameran atau ke gebetan!
Rule of Third. Mengambil elemen penting yang bersimpangan dan elemen penting dalam satu garis.
Leading Lines. Menggunakan garis alami untuk menuntun mata kepada sebuah objek yang dituju.
Diagonals. Mengambil garis diagonal yang potensial membuat pergerakan dalam foto seolah nyata.


Framings. Menggunakan bingkai alami seperti pintu atau jendela.


Figure to Grounds. Mencari sisi kontras antara subjek yang dituju dengan latar belakangnya.


Fill the Frame. Jangan ragu, mendekatlah ke objek yang kamu tuju.



 Center Dominant Eye. Tempatkan mata yang dominan sebagai pusat foto.


 Patterns and Repetition. Mengambil pola dan estetikanya memang selalu menyenangkan, apalagi ketika salah satu bagian dari polanya terganggu.



Symmetry. Tempat membelah objek menjadi dua bagian akan membuat seolah objek bercermin namun dengan pentulan yang berbeda. 



Oleh: Rastiaka Atha Hestaviyasa
Sumber: www.provoke-online.com


Jumat, 01 Mei 2015

Kunyit Bantu Obati Kanker Mulut

KUNYIT tergolong rempah-rempah yang tidak asing digunakan di Indonesia saat mengolah menu masakan. Tahukah Anda? Kunyit juga dimanfaatkan sebagai obat herbal yang bantu sembuhkan kanker mulut akibat virus.
Studi ini telah dibuktikan oleh peneliti asal India. Mereka mengatakan, salah satu bahan aktif utama ramuan antioksidan yang disebut curcumin, tampaknya memiliki efek menekan virus human papillomavirus (HPV).
"Kunyit telah membentuk sifat antivirus dan antikanker. Menurut temuan baru kami, kunyit juga baik untuk menjaga kesehatan mulut juga," kata Peneliti Alok Mishra dari Universitas Emory di Atlanta, seperti dikutip Timesofindia, Jumat (1/5/2015).
Seperti diketahui, HPV adalah virus yang dapat mengembangkan kanker serviks dan mulut. Penelitian baru menunjukkan bahwa curcumin ternyata menurunkan ekspresi HPV pada sel kanker mulut yang terinfeksi oleh downregulating tingkat transkripsi seluler faktor AP-1 dan NF-kB.
Jurnalis : Dewi Kania
Sumber : lifestyle.okezone.com